SEMARANG, suaramerdeka.com - Makanan khas kota
Semarang adalah produk wisata kuliner khas yang harus dikembangkan.
Karena merupakan salah satu andalan pendukung keberhasilan wisata.
Kuliner tradisional Semarang punya sederet makanan khas. Siapa yang
tak kenal lumpia, wingko babat, bandeng presto duri lunak, soto khas
Semarang? Ya, rupa-rupa kudapan itu menjadi andalan Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Kota Semarang untuk mengembangkan dunia pariwisata Semarang.
Event Semarang Night Carnival 2012 serta Festival Makanan dan Minuman
Khas Semarangan sedianya akan digelar menjelang HUT Kota Semarang
ke-465. Mempersiapkan perhetalan itu, sejumlah pelaku usaha bertemu
dalam kegiatan Temu Pelaku Usaha Pariwisata Semarang Night Carnival 2012
Festival Makanan dan Minuman Khas Semarangan Sambut Visit Jateng 2013
di Hotel Grand Candi Semarang, Selasa (3/4).
Pelaku usaha pariwisata dari pusat perbelanjaan, perhotelan,
kerajinan, kuliner berdiskusi bersama menyiapkan aneka kegiatan untuk
meramaikan event setahun sekali itu. Diskusi tersebut menghadirkan
Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Rr
Litani Satyawati, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang Rudi
Nurrahmad dan Ketua Harian Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang Benk
Mintosih dan Kepala Biro Harian Sindo Wilayah Jateng-DIY, Wiwekan T
Nugroho.
''Pada Festival Makanan dan Minuman Khas Semarang nanti akan ada
pemecahan rekor Muri pembuatan lumpia terpanjang 465 meter. Sekitar 465
koki yang ada di Semarang bersama-sama membuat salah satu makanan khas
Semarang itu,'' kata Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang Rudi
Nurrahmad.
Kegiatan yang digelar Minggu (22/4) mendatang di depan Balai Kota
Jalan Pemuda Semarang tersebut diikuti 60 stand. Peserta memamerkan
beragam makanan tradisional khas Semarang. Nantinya, lanjut Rudi,
pembelian makanan dalam bentuk kupon. Sebanyak 2.000 lembar kupon sudah
terjual.
Rabu, 04 April 2012
menbudpar Laksanakan Capacity Building untuk Visit Aceh 2013
Banda Aceh - Dalam rangka menyongsong Visit Aceh 2013, Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh mengadakan serangkaian kegiatan
Capacity Building untuk meningkatkan SDM kepariwisataan selama bulan
Maret, April, dan Mei 2012. Pelatihan ini melibatkan 2090 peserta dari
berbagai lapisan elemen masyarakat di seluruh Aceh yang meliputi;
kelompok sadar wisata, tokoh masyarakat, penarik becak, da’i, pengusaha
hotel/rumah makan/travel, pengrajin cenderamata, seniman, dan guru-guru
SD, SMP, SMA.
Kegiatan ini melibatkan banyak narasumber kompeten dari Jakarta dan Aceh. Selain pelatihan manajemen kepariwisataan dan cenderamata, pelatihan tari Saman dan Not Balok (tangga nada0 juga diberikan kepada guru-guru sekolah, masyarakat, dan seniman se-Aceh.
Kegiatan Capacity Building ini merupakan strategi ‘tetesan minyak’ yang nantinya akan menghasilkan ‘alumni-alumni Capacity Building’ dari berbagai elemen masyarakat yang akan menularkan semangat kepariwisataan kepada seluruh lapisan masyarakat lainnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan Aceh sebagai tuan rumah Visit Aceh 2013 harus mampu memberikan pelayanan ekstra (service of excellent) kepada wisatawan yang datang ke Aceh.
“Prinsip Disbudpar Provinsi Aceh adalah bagaimana dengan jumlah dana yang minimal, mampu melibatkan banyak orang dari berbagai lapisan dan mampu menampung lebih banyak ide dan gagasan melalui rangkaian perlombaan dan rangkaian kegiatan Capacity Building demi suksesnya Visit Aceh 2013,” ucap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh, Prof. Dr. Jasman J Ma’ruf, SE, M. BA.
“Kita ingin membuka perspektif masyarakat tentang kepariwisataan, terutama sekali mengenai pandangan Islam terhadap kepariwisataan dan bagaimana cara menghargai tamu,” lanjut Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala ini.
Masih banyak lagi rangkaian kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka menyambut Visit Aceh 2013 ini. Rangkaian kegiatan ini akan berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan ke Aceh yang akhirnya bermuara pada peningkatan pertumbuhan eknonomi masyarakat sekitar dan menggeliatnya semangat Ekonomi Kreatif. (rel).
Kegiatan ini melibatkan banyak narasumber kompeten dari Jakarta dan Aceh. Selain pelatihan manajemen kepariwisataan dan cenderamata, pelatihan tari Saman dan Not Balok (tangga nada0 juga diberikan kepada guru-guru sekolah, masyarakat, dan seniman se-Aceh.
Kegiatan Capacity Building ini merupakan strategi ‘tetesan minyak’ yang nantinya akan menghasilkan ‘alumni-alumni Capacity Building’ dari berbagai elemen masyarakat yang akan menularkan semangat kepariwisataan kepada seluruh lapisan masyarakat lainnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan Aceh sebagai tuan rumah Visit Aceh 2013 harus mampu memberikan pelayanan ekstra (service of excellent) kepada wisatawan yang datang ke Aceh.
“Prinsip Disbudpar Provinsi Aceh adalah bagaimana dengan jumlah dana yang minimal, mampu melibatkan banyak orang dari berbagai lapisan dan mampu menampung lebih banyak ide dan gagasan melalui rangkaian perlombaan dan rangkaian kegiatan Capacity Building demi suksesnya Visit Aceh 2013,” ucap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh, Prof. Dr. Jasman J Ma’ruf, SE, M. BA.
“Kita ingin membuka perspektif masyarakat tentang kepariwisataan, terutama sekali mengenai pandangan Islam terhadap kepariwisataan dan bagaimana cara menghargai tamu,” lanjut Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala ini.
Masih banyak lagi rangkaian kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka menyambut Visit Aceh 2013 ini. Rangkaian kegiatan ini akan berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan ke Aceh yang akhirnya bermuara pada peningkatan pertumbuhan eknonomi masyarakat sekitar dan menggeliatnya semangat Ekonomi Kreatif. (rel).
Bangka Barat bangun hutan kota 10 hektar
Muntok, Bangka
Barat (ANTARA News) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka
Belitung, pada 2012 akan membangun hutan kota seluas 10 hektar di ibu
kota Kabupaten tersebut.
"Lokasi sudah kami tetapkan tinggal menunggu pencanangan dari Kementerian Kehutanan," ujar Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bangka Barat Kemas Arfani Rahman di Muntok, Rabu.
Ia menjelaskan, rencananya dalam hutan kota tersebut akan dibangun untuk menunjang berbagai bidang seperti pariwisata, konservasi hutan, pengembangbiakan hewan dan tumbuhan, pusat ilmu pengetahuan, perpustakaan, sarana "out bond" dan kegiatan lain yang bermanfaat untuk masyarakat.
"Selain itu, hutan kota tersebut juga diharapkan dapat berfungsi seperti hutan pada umumnya yaitu sebagai daerah resapan air hujan dan melindungi habitat hewan dan tumbuhan asli daerah tersebut," katanya lagi.
Kawasan hutan tersebut rencananya juga akan dibuatkan pagar pembatas agar lebih aman dari gangguan aktivitas pembalakan dan perusakan habitat asli di hutan tersebut.
"Kami juga berharap ke depan hutan kota tersebut mampu diandalkan menjadi paru-paru Muntok dan menjadi salah satu ikon Muntok selain Wisma Menumbing," ujarnya.
Menurut dia, hutan kota tersebut memiliki manfaat untuk menjaga kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan meliputi unsur lingkungan, sosial dan budaya.
Selain itu, hutan kota juga berfungsi mengurangi peningkatan suhu udara, mengurangi pencemaran udara, mencegah terjadinya penurunan air tanah, mencegah terjadinya banjir dan lainnya.
"Kami mengharapkan adanya hutan kota tersebut dapat memperbaiki dan menjaga iklim serta memiliki nilai estetika selain menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan tersebut," ujarnya.
Melalui hutan kota tersebut diharapkan mampu menggambarkan identitas daerah Bangka Barat melalui koleksi jenis tanaman dan hewan yang ada dan sebagai kawasan pelestarian dan konservasi karena di dalamnya dapat dijadikan sebagai tempat penangkaran hewan dan tumbuhan dalam upaya mendukung riset.
"Dengan adanya hutan kota tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi stres melalui kesejukan dan keindahan alam yang diciptakan selain fungsinya sebagai penahan air tanah, pengurang polusi udara, penelitian tanaman, kawasan perkemahan dan pariwisata," demikian Kemas.
"Lokasi sudah kami tetapkan tinggal menunggu pencanangan dari Kementerian Kehutanan," ujar Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bangka Barat Kemas Arfani Rahman di Muntok, Rabu.
Ia menjelaskan, rencananya dalam hutan kota tersebut akan dibangun untuk menunjang berbagai bidang seperti pariwisata, konservasi hutan, pengembangbiakan hewan dan tumbuhan, pusat ilmu pengetahuan, perpustakaan, sarana "out bond" dan kegiatan lain yang bermanfaat untuk masyarakat.
"Selain itu, hutan kota tersebut juga diharapkan dapat berfungsi seperti hutan pada umumnya yaitu sebagai daerah resapan air hujan dan melindungi habitat hewan dan tumbuhan asli daerah tersebut," katanya lagi.
Kawasan hutan tersebut rencananya juga akan dibuatkan pagar pembatas agar lebih aman dari gangguan aktivitas pembalakan dan perusakan habitat asli di hutan tersebut.
"Kami juga berharap ke depan hutan kota tersebut mampu diandalkan menjadi paru-paru Muntok dan menjadi salah satu ikon Muntok selain Wisma Menumbing," ujarnya.
Menurut dia, hutan kota tersebut memiliki manfaat untuk menjaga kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan meliputi unsur lingkungan, sosial dan budaya.
Selain itu, hutan kota juga berfungsi mengurangi peningkatan suhu udara, mengurangi pencemaran udara, mencegah terjadinya penurunan air tanah, mencegah terjadinya banjir dan lainnya.
"Kami mengharapkan adanya hutan kota tersebut dapat memperbaiki dan menjaga iklim serta memiliki nilai estetika selain menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan tersebut," ujarnya.
Melalui hutan kota tersebut diharapkan mampu menggambarkan identitas daerah Bangka Barat melalui koleksi jenis tanaman dan hewan yang ada dan sebagai kawasan pelestarian dan konservasi karena di dalamnya dapat dijadikan sebagai tempat penangkaran hewan dan tumbuhan dalam upaya mendukung riset.
"Dengan adanya hutan kota tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi stres melalui kesejukan dan keindahan alam yang diciptakan selain fungsinya sebagai penahan air tanah, pengurang polusi udara, penelitian tanaman, kawasan perkemahan dan pariwisata," demikian Kemas.
Parlemen Indonesia promosikan pariwisata NTB melalui AIPA
Mataram (ANTARA
News) - Parlemen Indonesia berniat mempromosikan potensi pariwisata yang
dimiliki Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagai bagian dari potensi
besar di Indonesia, melalui kegiatan ASEAN Inter Parliamentary Assembly.
"Untuk memperkenalkan Indonesia yang luas ini, agar negara-negara lain menghargai Indonesia itu sebagai negara besar, makanya pertemuan internasional seperti AIPA akan digelar di Lombok, Nusa Tenggara Barat, agar wisatawan banyak datang," kata Presiden ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA) Marzuki Alie, di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa.
Marzuki yang juga Ketua DPR itu berada di Mataram, guna mengkoordinasikan kesiapan NTB sebagai tuan rumah Sidang Umum ke-33 AIPA, yang dijadwalkan September 2012.
Ia mengaku sering menghadiri pertemuan intErnasional, dan mengetahui kalau negara-negara lain belum banyak mengenal Indonesia secara keseluruhan sebagai negara yang luas dengan potensi besar.
"Saya sedih, mereka (negara lain) lebih tahu Malaysia daripada Indonesia. Mereka tahunya Bali atau Jakarta atau belum mengenal Indonesia secara utuh. Dari pertemuan-pertemuan itulah saya berpandangan bahwa Indonesia harus dipromosikan, caranya laksanakan kegiatan internasional di daerah-daerah yang potensial," ujarnya.
Marzuki menyontohkan, pertemuan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Palembang, Sumatera Selatan, 24-31 Januari 2012, yang dihadiri sebanyak 334 peserta dari 40 negara.
Ia memanfaatkan pertemuan itu untuk memperkenalkan Indonesia, dan menawarkan Sidang Umum ke-33 AIPA di gelar di Pulau Lombok, NTB.
"Dengan mengenal Lombok, diharapkan akan banyak wisatawan yang datang. Wisatawan yang ke Malaysia mencapai 20 juta, sedangkan ke Indonesia tujuh juta saja sudah susah," ujarnya.
Marzuki mengaku, dalam berbagai kesempatan ia selalu menyampaikan potensi besar Indonesia, termasuk di bidang pariwisata, yang juga ditujukan kepada para pejabat dari China dan negara lainnya di Asia maupun Afrika dan lain sebagainya.
China merupakan negara yang menjadi target kunjungan pariwisata ke Indonesia, karena berpenduduk 1,3 miliar jiwa. Jika satu persen saja yang bepergian ke Indonesia, maka ada tambahan satu juta wisatawan.
"Apalagi, China memiliki perekonomian yang relatif baik, tapi jarang yang ke Indonesia, padahal punya potensi besar," ujarnya.
Menurut dia, Lombok cukup memadai sebagai daerah tujuan promosi pariwisata melalui pertemuan AIPA, karena telah memiliki bandara udara representatif yakni Bandara Internasional Lombok (BIL).
Selain itu, lokasi pelaksanaan sidang-sidang AIPA juga relatif memadai, yang didukung ruangan tempat menginap peserta sidang.
"Potensi alam dan budaya di Lombok juga indah. Mereka (peserta sidang AIPA) bisa menikmatinya, dan selanjutnya mengajak orang di negaranya masing-masing untuk datang ke Lombok," ujarnya.(*)
"Untuk memperkenalkan Indonesia yang luas ini, agar negara-negara lain menghargai Indonesia itu sebagai negara besar, makanya pertemuan internasional seperti AIPA akan digelar di Lombok, Nusa Tenggara Barat, agar wisatawan banyak datang," kata Presiden ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA) Marzuki Alie, di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa.
Marzuki yang juga Ketua DPR itu berada di Mataram, guna mengkoordinasikan kesiapan NTB sebagai tuan rumah Sidang Umum ke-33 AIPA, yang dijadwalkan September 2012.
Ia mengaku sering menghadiri pertemuan intErnasional, dan mengetahui kalau negara-negara lain belum banyak mengenal Indonesia secara keseluruhan sebagai negara yang luas dengan potensi besar.
"Saya sedih, mereka (negara lain) lebih tahu Malaysia daripada Indonesia. Mereka tahunya Bali atau Jakarta atau belum mengenal Indonesia secara utuh. Dari pertemuan-pertemuan itulah saya berpandangan bahwa Indonesia harus dipromosikan, caranya laksanakan kegiatan internasional di daerah-daerah yang potensial," ujarnya.
Marzuki menyontohkan, pertemuan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Palembang, Sumatera Selatan, 24-31 Januari 2012, yang dihadiri sebanyak 334 peserta dari 40 negara.
Ia memanfaatkan pertemuan itu untuk memperkenalkan Indonesia, dan menawarkan Sidang Umum ke-33 AIPA di gelar di Pulau Lombok, NTB.
"Dengan mengenal Lombok, diharapkan akan banyak wisatawan yang datang. Wisatawan yang ke Malaysia mencapai 20 juta, sedangkan ke Indonesia tujuh juta saja sudah susah," ujarnya.
Marzuki mengaku, dalam berbagai kesempatan ia selalu menyampaikan potensi besar Indonesia, termasuk di bidang pariwisata, yang juga ditujukan kepada para pejabat dari China dan negara lainnya di Asia maupun Afrika dan lain sebagainya.
China merupakan negara yang menjadi target kunjungan pariwisata ke Indonesia, karena berpenduduk 1,3 miliar jiwa. Jika satu persen saja yang bepergian ke Indonesia, maka ada tambahan satu juta wisatawan.
"Apalagi, China memiliki perekonomian yang relatif baik, tapi jarang yang ke Indonesia, padahal punya potensi besar," ujarnya.
Menurut dia, Lombok cukup memadai sebagai daerah tujuan promosi pariwisata melalui pertemuan AIPA, karena telah memiliki bandara udara representatif yakni Bandara Internasional Lombok (BIL).
Selain itu, lokasi pelaksanaan sidang-sidang AIPA juga relatif memadai, yang didukung ruangan tempat menginap peserta sidang.
"Potensi alam dan budaya di Lombok juga indah. Mereka (peserta sidang AIPA) bisa menikmatinya, dan selanjutnya mengajak orang di negaranya masing-masing untuk datang ke Lombok," ujarnya.(*)
Air Terjun Bananggar Potensi Wisata Landak
Ngabang –
Air Terjun Bananggar di Kecamatan Serimbu, Kabupaten Landak
sangat kaya dengan potensi wisata khususnya para pencinta arung jeram.
Rencananya awal Mei Pemerintah Daerah Landak melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporabudpar) mengadakan berbagai kegiatan di lokasi Air Terjun Bananggar. Tujuannya untuk mempromosikan kekayaan alam yang dimiliki Negeri Intan, julukan Kabupaten Landak.
“Berangkat ke sana, dari Serimbu sampai ke Tauk kita adakan off road, kemudian dari Tauk perjalanan ke lokasi Air Terjun Bananggar menggunakan jalur sungai. Rencananya, kegiatan yang akan diselenggarakan bulan Mei mendatang. Bukan hanya itu, di Serimbu sebelum off road ke Tauk, kita adakan peragaan kegiatan, mendulang intan secara tradisional,” kata Acin SPd, Kepala Bidang Pariwisata Disporabudpar ditemui Senin (2/4).
Sebelum kegiatan, Disporabudpar sudah melakukan berbagi persiapan. Khususnya survei lokasi untuk off road dan persiapan lokasi arung jeram dan peragaan mendulang intan secara tradisional. Koordinasi dengan instansi terkait sudah dilakukan. Tinggal menunggu instruksi dari Bupati Landak yang juga akan mengikuti kegiatan tersebut.
“Rencananya, rombongan akan menginap satu malam di sana. Malamnya kita akan buat acara hiburan organ tunggal. Kemudian pagi sebelum pulang kita akan buat acara mancing dan arung jeram. Kegiatan ini sebagai upaya untuk menggali potensi daerah, juga sebagai ajang promosi daerah,” jelas Acin.
Lokasi patahan Sungai Landak ini akan dijadikan pusat off road dan arung jeram. Selain keaslian alam, Pemkab Landak juga akan menata kebutuhan pengunjung. Di antaranya WC, ruang ganti, pembangunan pintu gerbang, dan tempat parkir pengunjung.
Acin mengungkapkan, tinggi Air Terjun Bananggar berdasarkan hasil survei awal sekitar 60 meter dan lebar sungai hampir sama, juga 60 meter. “Bananggar memang sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepada Landak. Karena untuk menuju ke sana tidak diperlukan biaya terlalu besar. Jalan yang dilewati semua bermanfaat untuk perjalanan wisata,” papar Acin. (tar)
Rencananya awal Mei Pemerintah Daerah Landak melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporabudpar) mengadakan berbagai kegiatan di lokasi Air Terjun Bananggar. Tujuannya untuk mempromosikan kekayaan alam yang dimiliki Negeri Intan, julukan Kabupaten Landak.
“Berangkat ke sana, dari Serimbu sampai ke Tauk kita adakan off road, kemudian dari Tauk perjalanan ke lokasi Air Terjun Bananggar menggunakan jalur sungai. Rencananya, kegiatan yang akan diselenggarakan bulan Mei mendatang. Bukan hanya itu, di Serimbu sebelum off road ke Tauk, kita adakan peragaan kegiatan, mendulang intan secara tradisional,” kata Acin SPd, Kepala Bidang Pariwisata Disporabudpar ditemui Senin (2/4).
Sebelum kegiatan, Disporabudpar sudah melakukan berbagi persiapan. Khususnya survei lokasi untuk off road dan persiapan lokasi arung jeram dan peragaan mendulang intan secara tradisional. Koordinasi dengan instansi terkait sudah dilakukan. Tinggal menunggu instruksi dari Bupati Landak yang juga akan mengikuti kegiatan tersebut.
“Rencananya, rombongan akan menginap satu malam di sana. Malamnya kita akan buat acara hiburan organ tunggal. Kemudian pagi sebelum pulang kita akan buat acara mancing dan arung jeram. Kegiatan ini sebagai upaya untuk menggali potensi daerah, juga sebagai ajang promosi daerah,” jelas Acin.
Lokasi patahan Sungai Landak ini akan dijadikan pusat off road dan arung jeram. Selain keaslian alam, Pemkab Landak juga akan menata kebutuhan pengunjung. Di antaranya WC, ruang ganti, pembangunan pintu gerbang, dan tempat parkir pengunjung.
Acin mengungkapkan, tinggi Air Terjun Bananggar berdasarkan hasil survei awal sekitar 60 meter dan lebar sungai hampir sama, juga 60 meter. “Bananggar memang sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepada Landak. Karena untuk menuju ke sana tidak diperlukan biaya terlalu besar. Jalan yang dilewati semua bermanfaat untuk perjalanan wisata,” papar Acin. (tar)
STP Bandung Dirikan Pusat Kajian Kuliner Indonesia
Menurut deputi direktur STP Bandung, Anang Sutono, pendirian pusat kajian kuliner ini merupakan permintaan dari pemerintah agar kuliner Indonesia bisa menjadi salah satu produk unggulan dalam mempromosikan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia internasional. "Tujuannya adalah untuk memperkuat daya saing kuliner Indonesia di kawasan internasional," ujarnya.
Sebagai langkah awal, jelas dia, pusat kajian itu akan mengeluarkan 25 set menu Indonesia andalan yang terdiri atas makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Set menu andalan itu merupakan hasil identifikasi terhadap beragam hidangan tradisional yang mengalami kemas ulang sehingga pantas dihidangkan secara internasional.
"Cita rasanya tidak akan diubah, hanya kemasannya yang ditangani agar bisa masuk ke pentas internasional," ujarnya.
Bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Anang mengatakan, pusat kajian kuliner itu nantinya juga akan memberi masukan menu untuk jamuan kenegaraan di Istana Negara yang menghidangkan berbagai makanan tradisional.
"Jamuan makan kenegaraan itu harus menghidangkan menu yang mewakili karakter Indonesia," ujarnya.
Selain itu, pusat kajian kuliner juga akan menggali filosofi di balik setiap menu makanan sehingga bisa dipelajari aspek budaya dan sejarah dari masakan tersebut.
Menurut Anang, pusat kajian kuliner itu diharapkan dapat mulai beroperasi pada Desember 2012. Dengan kerja sama erat antara lembaga akademik, pemerintah, dan industri serta asosiasi kuliner, Anang optimis hidangan Indonesia akan bisa mendunia dan akhirnya menjadi salah satu ikon yang mewakili Indonesia di pentas internasional.
"Kita sebenarnya tidak kalah dari Thailand, kaya akan beragam makanan yang penuh cita rasa. Tapi masakan Thailand justru lebih dikenal di dunia daripada Indonesia," tuturnya.
Giliketapang, Bidadari yang Menanti Sentuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Langganan:
Postingan (Atom)