Halaman

Rabu, 04 April 2012

Pariwisata Sumba Barat Harus Banyak Berbenah

WANOKAKA, KOMPAS.com — Sumba Barat menjadi daerah paling berkembang di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, dalam hal pariwisata. Sayangnya, kabupaten ini masih harus banyak berbenah jika ingin semakin menarik wisatawan.

Akomodasi tidak memadai. Yang melati tidak bagus untuk turis.
-- Daniel

Salah satu kendalanya adalah akomodasi. Di Sumba Barat, terutama di Waikabubak, ibu kota Sumba Barat, hanya tersedia hotel melati.
"Akomodasi tidak memadai. Yang melati tidak bagus untuk turis," kata Daniel, seorang pemandu wisata yang biasa menangani turis ke Sumba Barat, saat ditemui di tengah acara Festival Pasola, Rabu (14/3/2012).
Di Sumba Barat sebenarnya terdapat resor. Namun, lanjut Daniel, resor tersebut pun tergolong terlalu mahal, bahkan untuk turis Eropa.
Terpaksa para biro perjalanan lebih sering menempatkan turis di hotel-hotel melati. Hotel-hotel ini lebih banyak tak ber-AC. Kamar mandi pun masih menggunakan bak mandi dengan gayung dan tanpa air panas.
Hal senada diungkapkan Remu Nusa Putra dari Sumba Travel yang biasa menangani wisatawan mancanegara untuk tur ke Sumba. Menurutnya, akomodasi di Sumba Barat menjadi kendala saat menerima turis.
"Turis asing atau yang menengah atas tidak mau dengan hotel seperti itu. Tapi resor pun terlalu mahal dan letaknya terlalu jauh, jadi mau ke mana-mana susah," ungkapnya.
Oleh karena itu, Sumba Barat lebih cocok untuk turis dengan minat khusus yang memang mau menginap di tempat sederhana. Biasanya, biro-biro perjalanan wisata akan menjelaskan mengenai situasi dan kondisi akomodasi dan hal-hal lain di Sumba Barat, sebelum para calon turis itu benar-benar membeli paket tur ke Sumba Barat.
Selain itu, ungkap Remu, kesulitan untuk turis mencari rumah makan yang representatif. Maksudnya adalah rumah makan yang bersih dan nyaman, serta menjual kuliner khas Sumba. Di Sumba Barat hanya ada warung-warung makan sederhana yang menjual masakan Padang atau Jawa.
"Obyek wisata sendiri masih banyak yang belum dikelola benar oleh pemerintah daerah. Kadang tamu suka diminta uang lebih dari sekali. Harusnya setiap obyek jelas berapa tiket masuknya. Jadi, tamu tidak perlu keluar uang berkali-kali," ungkapnya.
Daniel juga menuturkan hal senada, yaitu masyarakat masih belum sadar pariwisata. Ia berharap pihak pemerintah daerah dapat membuat penyuluhan bagi masyarakat mengenai sadar wisata.
Sementara itu, Remu juga menjelaskan kendala yang dihadapi pemandu wisata. Ia mengungkapkan pemandu wisata di Sumba Barat khususnya dan Pulau Sumba pada umumnya hanya bisa bahasa Inggris. Padahal, Sumba Barat banyak menerima tamu-tamu yang tak bisa berbahasa Inggris, salah satunya adalah turis asal Perancis. Ia juga berharap agar lebih banyak pemandu wisata asli orang Sumba Barat.
"Kebanyakan pemandu dari luar Sumba, bukan orang Sumba Barat. Minimal kalau dia orang Sumba lebih paham dan mengerti budaya Sumba," ungkapnya.
Akan tetapi, meski dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut, para turis yang biasa ditangani Remu rata-rata tidak memberikan keluhan berarti.
"Itu karena sebelumnya, kita selalu jelaskan dulu kondisinya di Sumba Barat bagaimana. Hotelnya seperti apa atau guide-nya hanya ada yang bisa bahasa Inggris," kata Remu.
Turis-turis yang pernah datang ke Sumba Barat, tutur Remu, ada saja yang balik lagi ke Sumba Barat. Selain itu, lanjutnya, banyak juga turis yang datang karena mendapatkan informasi mengenai Sumba Barat dari teman atau kerabatnya yang pernah datang ke Sumba Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar